Kumpulan Puisi ToTo ST Radik

CATATAN HARIAN SEORANG PENYAIR

Oleh :
Toto ST Radik

di negeriku lelaki tak patut menitikkan

air mata

hanya perempuan boleh bersedih

dan menangis

lelaki adalah serdadu: baja yang ditempa

di atas api

keras dan padat dan kejam menggenggam hidup

tak ada sepetak ruang dan sejenak waktu

untuk bertanya

tentang sesuatu yang sederhana

segalanya telah selesai

dalam kitab kalah atau menang

di negeriku lelaki tak patut menitikkan

air mata: aku pun pergi

ke negeri puisi

di mana kegembiraan dan kesedihan

keraguan dan cinta

tak ditampik atau menampik

—-Serang, 1998

Republika Online edisi:07 Nov 1999


AMSAL SEBILAH PISAU

Oleh :
Toto ST Radik

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu terisak

sedih

sudah berharihari tak ada apa pun, sekadar bawang merah

atau seekor cicak melintas, untuk dicincang

jamur karat membelukar di tubuhnya yang kian suram dan

renta

matanya yang tumpul masih berkilat karena siksa lapar

namun ruang dan waktu yang mengepung dirinya hanya

menurunkan sepi

seseorang meninggalkannya begitu saja di meja makan itu

tanpa tugas tanpa mangsa

padahal begitu nyaring ia dengar suara erang daging dan

deras darah

yang muncrat di jalanjalan kelam dari jaman ke jaman

sejak qabil membantai habil

o, daging yang ranum darah yang harum

aku menginginkanmu di hari tuaku yang buruk ini! ratapnya

pedih dibekuk kenangan yang mendatanginya

bertubitubi

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu meraung

sangsai

seperti putus asa

sudah berharihari ia tak menemu cara bunuh diri: mengakhiri

seluruh perjalanannya dan memulai lagi pengelanaan baru

menyusuri jalanjalan kelam di dunia lain

bersama orangorang lain

sebagai korban

—Serang, 1998-1999

Republika Online edisi:07 Nov 1999


DI TENGAH LADANG JAGUNG

Oleh :
Toto ST Radik

di tengah ladang jagung

kuterjemahkan ayatayat cintamu

di antara gerak daundaun

dan dzikir embun

di tengah ladang jagung

aku lelaki dengan tubuh legam berkilau

dibakar matahari

dalam gairah cinta menggelegak

di tengah ladang jagung

aku penari yang khusyuk mengurai doa

menjadi beribu gerak di antara riak kenangan

kenyataan hari ini, dan impian masa depan

di tengah ladang jagung

di bukit yang jauh dari tahuntahun gaduh

dan usia kemarau, aku tengadah ke langit

menyerap seluruh cahaya

—Serang, 1998

Republika Online edisi:07 Nov 1999


INDONESIA, PADA SEBUAH MALAM

Oleh :
Toto ST Radik

indonesia — pada sebuah malam yang jauh

bulan separuh. burung alap-alap memekikkan seluruh

nyanyian kepedihan dan alamat-alamat kematian

sunyi pun tumbuh berkawan ketakutan

menjalar ke setiap rumah, mengetuk pintu-pintu

yang rapuh. dan angin seperti bersekutu

menghunjamkan dingin, tajam bagai tatapan

sepasang mata kucing hitam. kemudian hujan

jatuh, berputar-putar dalam tarian tanpa irama

menderas tak tertahan menuju jantung kegelapan

mengisyaratkan badai

indonesia — pada sebuah malam penuh hujan

bulan tersingkir seperti menegaskan kegelapan sihir

lolong anjing dari bukit-bukit jauh mengarungi

detik amarah yang bergelombang gaduh. bunga-bunga

berganti batu, dendang sayang berganti kibasan parang

semburan peluru dan kobaran api. darah pun tumpah

di setiap jengkal tanah. mengalir ribuan kilometer

bersama airmata yang diam-diam menyimpan kenangan

sejarah negeri hijau. sobekan bendera terbakar

di atas meja perjudian. mantera-mantera, doa-doa, kutukan

seribu kata saling tindih saling cakar di antara

percakapan-percakapan aneh penuh sandi

indonesia — pada sebuah malam huru-hara

aku menundukkan kepala di kamar berdebu

membaca baris demi baris sajak-sajakku yang berlepasan

dari penjara kertas: melangkah di jalan-jalan berbatu!

Serang, 31.12.1996

Sajak-sajak Peduli Bangsa
Pengantar Red:Reformasi terus bergulir, sajak-sajak peduli bangsa bersemangat reformasi juga terus mengalir ke redaksi Republika dari seluruh penjuru tanah air. Perdebatan politik pun tak kunjung selesai, soal sidang istimewa, soal percepatan pemilu, sampai gegap gempita pembentukan partai-partai baru. Tapi, ada yang tak bisa kita lupakan: makin banyak rakyat kecil yang menjerit kelaparan, penganggur yang terus bertambah, harga sembako yang masih tinggi, di tengah perekonomian negara yang terancam bangkrut. Karena itu, sajak-sajak kepedulian pada penderitaan rakyat kecil, sajak-sajak bersemangat penyadaran kemanusiaan, sajak-sajak cinta tanah air, akan lebih dihargai untuk masuk di rubrik ini.

Republika Online edisi: 07 Jun 1998


MAJLIS MAKAN MALAM DAN LETUPAN DI
MASJID ISTIQLAL

Oleh :
Toto ST Radik

ketika lidah sibuk mengganyang 20 tusuk satay, ayam

bakar, laksa johor, semangka, dan teh susu dalam

majlis makan malam di saujana yang amat berhormat

deto’ haji abdul ghani othman*), seseorang menikam

telinga kiriku: istiqlal diletupkan sebutir bom, tuan!

seketika itu juga, di tengah tarian dan nyanyian

melayu yang mendayudayu, hidangan di atas meja

menjelma bangkai dan genangan darah. malam mengerut

angin memusing, menghisap seluruh kesadaranku. seribu

mulut berdengungan seperti lebah gila, ditingkah suara

tawa yang berdenging tajam. aku muntah. tubuhku pun

meletup. kepingankepingannya beterbangan, melesat

melintas pulau dan lautan. jatuh berkaparan di lantai dasar

masjid di antara kacakaca yang berpecahan dan sengatan

bau belerang

—Johor Bahru Malaysia, 1999

*) Kediaman resmi YAB Menteri Besar Johor.

Republika Online edisi:07 Nov 1999


SAWAH SATU

Oleh :
Toto ST Radik

di sawah sunyi ini aku menanam

benih padi

menyelam ke dasar lumpur

membuka birahi bumi

dan menanam lagi

di sawah sunyi ini aku menari

sendiri

mengembara ke dasar doa

mereguk saripati bumi

dan menari lagi

di sawah sunyi ini aku rebah

pada tanah

menjemput gelisah

menulis sejarah

—Serang, 1999

Republika Online edisi:07 Nov 1999


SELAT JOHOR

Oleh :
Toto ST Radik

selat johor sediam batu dinihari

dirundung murung

di seberang

singapura yang kecil menyala

bagai kawanan kunangkunang liar

menyerbu mataku

menikam hatiku yang bolong

selat johor sediam batu

bulan tumpas tanpa jejak

segaris sinar

memancar dari dasar laut

tegak lurus

seperti tombak yang menagih negeri

dan kudengar suara ibu memanggiliku

selat johor sediam batu

rinduku begitu gaduh

— Johor Bahru Malaysia, 1999

Republika Online edisi:07 Nov 1999

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: