kumpulan puisi-puisi Wiji Tukul

Aku ingin jadi peluru

berikut ini adalah kumpulan puisi dari buku karya Wiji Tukul

Aku Ingin Jadi PeluruAku Ingin Jadi PeluruOleh Wiji Thukul

Penerbit:Indonesia TERA – Anggota Ikapi

Cetakan Pertama, Juni 2000

Cetakan Kedua, April 2004

Penyunting:Khotimatul Husna

Design Sampul:

M. Iqbal Azcha

Lukisan Sampul:

Alfi

Distributor:

AgroMedia Pustaka

Bintaro Jaya Sektor IX

Jl Rajawali IV Blok HDX No. 3 Tangerang 15226

Telp. (021) 7451 644, (021) 7486 3334

Fax. (021) 7486 3332

____________________________________

DAFTAR ISI

Pulanglah Nang

Monumen Bambu Runcing

Riwayat

Suara Dari Rumah-Rumah Miring

Catatan Malam

Nyanyian Akar Rumput

Catatan

Ucapkan Kata-Katamu

Sajak Bapak Tua

Sajak Bagong

Sajak Ibu

Sajak Kepada Bung Dadi

Catatan 88

Jalan Slamet Riyadi Solo

Batas Panggung

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun

Tetangga Sebelahku

Hujan

Lingkungan Kita Si Mulut Besar

Megatruh Solidaritas

Catatan Suram

Gumam Sehari-hari

Catatan Hari Ini

Reportase dari Puskesmas

Sajak Kota

Aku Lebih Suka Dagelan

Sajak Setumbu Nasi Sepanci Sayur

Jalan

Pasar Malam Sriwedari

Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan

Lumut

Tanah

Sajak Tapi Sayang

Gunungbatu

Suti

Apa Yang Berharga Dari Puisiku

Mendongkel Orang-Orang Pintar

Kota ini Milik Kalian

Gentong Kosong

Kucing, Ikan Asin dan Aku

Nonton Harga

Derita Sudah Naik Seleher

Puisi Sikap

Hari Ini Aku Akan Bersiul-siul

Merontokkan Pidato

Puisi Menolak Patuh

====================================

Pulanglah Nang

pulanglah nang

jangan dolanan sama si kuncung

si kuncung memang nakal

nanti bajumu kotor lagi

disirami air selokan

pulanglah nang

nanti kamu manangis lagi

jangan dolanan sama anaknya pak kerto

si bejo memang mbeling

kukunya hitam panjang-panjang

kalau makan tidak cuci tangan

nanti kamu ketularan cacingan

pulanglah nang

kamu kan punya mobil-mobilan

kapal terbang bikinan taiwan

senapan atom bikinan jepang

kamu kan punya robot yang bisa jalan sendiri

pulanglah nang

nanti kamu digebugi mamimu lagi

kamu pasti belum tidur siang

pulanglah nang

jangan dolanan sama anaknya mbok sukiyem

mbok sukiyem memang keterlaluan

si slamet sudah besar tapi belum disekolahkan

pulanglah nang

pasti papimu marah lagi

kamu pasti belum bikin PR

belajar yang rajin

biar nanti jadi dokter

Solo, september 86

Monumen Bambu Runcing

monumen bambu runcing

di tengah kota

menuding dan berteriak merdeka

di kakinya tak jemu juga

pedagang kaki lima berderet-deret

walau berulang-ulang

dihalau petugas ketertiban

semarang, 1 maret 86

Riwayat

seperti tanah lempung

pinggir kampung

masa laluku kuaduk-aduk

kubikin bentuk-bentuk

patung peringatan

berkali-kali

kuhancurkan

kubentuk lagi

kuhancurkan

kubentuk lagi

patungku tak jadi-jadi

aku ingin sempurna

patungku tak jadi-jadi

lihat!

diriku makin belepotan

dalam penciptaan

kalangan, oktober 87

Suara Dari Rumah-Rumah Miring

di sini kamu bisa menikmati cicit tikus

di dalam rumah miring ini

kami mencium selokan dan sampan

bagi kami setiap hari adalah kebisingan

di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat

bersama tumpukan gombal-gombal

dan piring-piring

di sini kami bersetubuh dan melahirkan

anak-anak kami

di dalam rumah miring ini

kami melihat matahari menyelinap

dari atap ke atap

meloncati selokan

seperti pencuri

radio dari segenap penjuru

tak henti-hentinya membujuk kami

merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran

sandiwara obat-obatan

dan berita-berita yang meragukan

kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak

tapi bersama hari-hari pengap yang menggelinding

kami harus angkat kaki

karena kami adalah gelandangan

solo, oktober 87

Catatan Malam

anjing nyalak

lampuku padam

aku nelentang

sendirian

kepala di bantal

pikiran menerawang

membayang pernikahan

(pacarku buruh harganya tak lebih dua ratus rupiah per jam)

kukibaskan pikiran tadi dalam gelap makin pekat

aku ini penyair miskin

tapi kekasihku cinta

cinta menuntun kami ke masa depan

solo-kalangan, 23 februari 88


Nyanyian Akar Rumput

jalan raya dilebarkan

kami terusir

mendirikan kampung

digusur

kami pindah-pindah

menempel di tembok-tembok

dicabut

terbuang

kami rumput

butuh tanah

dengar!

Ayo gabung ke kami

Biar jadi mimpi buruk presiden!

juli 1988


Catatan

udara AC asing di tubuhku

mataku bingung melihat

deretan buku-buku sastra

dan buku-buku tebal intelektual terkemuka

tetapi harganya

Ooo.. aku ternganga

musik stereo mengitariku

penjaga stand cantik-cantik

sandal jepit dan ubin mengkilat

betapa jauh jarak kami

uang sepuluh ribu di sakuku

di sini hanya dapat 2 buku

untuk keluargaku cukup buat

makan seminggu

gemerlap toko-toko di kota

dan kumuh kampungku

dua dunia yang tak pernah bertemu

solo, 87-88


Ucapkan Kata-Katamu

jika kau tak sanggup lagi bertanya

kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu

mulutmu tak bisa mengucapkan

apa maumu terampas

kau akan diperlakukan seperti batu

dibuang dipungut

atau dicabut seperti rumput

atau menganga

diisi apa saja menerima

tak bisa ambil bagian

jka kau tak berani lagi bertanya

kita akan jadi korban keputusan-keputusan

jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba pada ketakutan

kita akan memperpanjang barisan perbudakan

kemasan-kentingan-sorogenen


Sajak Bapak Tua

bapak tua

kulitnya coklat dibakar matahari kota

jidatnya berlipat-lipat seperti sobekan luka

pipinya gosong disapu angin panas

tenaganya dikuras

di jalan raya siang tadi

sekarang bapak mendengkur

dan ketika bayangan esok pagi datang

di dalam kepalaku

bis tingkat itu tiba-tiba berubah

jadi ikan kakap raksasa

becak-becak jadi ikan teri

yang tak berdaya

solo, juni 1987


Sajak Bagong

bagong namanya

tantanglah berkelahi

kepalamu pasti dikepruk batu

bawalah whisky

bahumu pasti ditepuk-tepuk gembira

ajaklah omong

tapi jangan khotbah

ia akan kentut

bagong namanya

malam begadang

subuh tidur bangun siang

sore parkir untuk makan

awas jangan ngebut di depan matanya

engkau bisa dipukuli

lalu ditinggal pergi

ya, ya.. bagong namanya

pemilu kemarin besar jasanya

bagong ya bangong

tapi bagong sudah mati

pada suatu pagi

mayatnya ditemukan orang

di tepi rel kereta api

setahun yang lalu

ya, ya.. setahun yang lalu


Sajak Ibu

ibu pernah mengusirku minggat dari rumah

tetapi menangis ketika aku susah

ibu tak bisa memejamkan mata

bila adikku tak bisa tidur karena lapar

ibu akan marah besar

bila kami merebut jatah makan

yang bukan hak kami

ibuku memberi pelajaran keadilan

dengan kasih sayang

ketabahan ibuku

mengubah rasa sayur murah

jadi sedap

ibu menangis ketika aku mendapat susah

ibu menangis ketika aku bahagia

ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda

ibu menangis ketika adikku keluar penjara

ibu adalah hati yang rela menerima

selalu disakiti oleh anak-anaknya

penuh maaf dan ampun

kasih sayang ibu

adalah kilau sinar kegaiban tuhan

membangkitkan haru insan

dengan kebajikan

ibu mengenalkan aku kepada tuhan

solo, 1986


Sajak Kepada Bung Dadi

ini tanahmu juga

rumah-rumah yang berdesakan

manusia dan nestapa

kampung halaman gadis-gadis muda

buruh-buruh berangkat pagi pulang sore

dengan gaji tak pantas

kampung orang-orang kecil

yang dibikin bingung

oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan

dibikin tunduk mengangguk

bungkuk

ini tanah airmu

di sini kita bukan turis

solo-sorogenen, malam pemilu 87


Catatan 88

saban malam

dendam dipendam

protes diam-diam

dibungkus gurauan

saban malam

menyanyi menyabarkan diri

bau tembakau dan keringat di badan

campur aduk dengan kegelisahan

saban malam

mencoba bertahan menghadapi kebosanan

menegakkan diri dengan harapan-harapan

dan senyum rawan

saban malam

rencana-rencana menumpuk jadi kuburan

solo-sorogenen, 1 september 88


Jalan Slamet Riyadi Solo

dulu kanan dan kiri jalan ini

pohon-pohon asam besar melulu

saban lebaran dengan teman sekampung

jalan berombongan

ke taman sriwedari nonton gajah

banyak yang berubah kini

ada holland bakery

ada diskotik ada taksi

gajahnya juga sudah dipindah

loteng-loteng arsitektur cina

kepangkas jadi gedung tegak lurus

hanya kereta api itu

masih hitam legam

dan terus mengerang

memberi peringatan pak-pak becak

yang nekat potong jalan

“hei hati hati

cepat menepi ada polisi

banmu digembos lagi nanti!”

solo, mei-juni 1991


Batas Panggung

kepada para pelaku

ini adalah daerah kekuasaan kami

jangan lewati batas ini

jangan campuri apa yang terjadi di sini

karena kalian penonton

kalian adalah orang luar

jangan rubah cerita yang telah kami susun

jangan belokkan jalan cerita yang telah kami rencanakan

karena kalian adalah penonton

kalian adalah orang luar

kalian harus diam

panggung seluas ini hanya untuk kami

apa yang terjadi d sini

jangan ditawar-tawar lagi

panggung seluas ini hanya untuk kami

jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya

ke dalam permainan ini

panggung seluas ini hanya untuk kami

kalian harus bayar kami

untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini

biarkan kami menjalankan kekuasaan kami

tontonlah

tempatmu di situ

solo, 21 november 91


Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun

panas campur debu

terbawa angin ke mana-mana

koran hari ini memberitakan

kedungombo menyusut kekeringan

korban pembangunan dam

muncul kembali ke permukaan

tanah-tanah bengkah

pohon-pohon besar malang-melintang

makam-makam bangkit dari ingatan

mereka yang dulu diam

kali ini

cerita itu siapa akan membantah

dasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah

waktu juga yang menyingkap

retorika penguasa

walau senjata ditodongkan kepadamu

walau sepatu di atas kepalamu

di atas kepalaku

di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun

sebab cerita ini belum tamat

solo, 30 agustus 91


Tetangga Sebelahku

tetangga sebelahku

pintar bikin suling bambu

dan memainkan banyak lagu

tetangga sebelahku

kerap pinjam gitar

nyanyi sama anak-anaknya

kuping sebelahnya rusak

dipopor senapan

tetangga sebelahku

hidup bagai dalam benteng

melongok-longok selalu

membaca bahaya

tetangga sebelahku

diterror masa lalu

kalangan-solo, november 1991


Hujan

mendung hitam tebal

masukkan itu jemuran

dan bantal-bantal

periksa lagi genting-genting

barangkali bocornya pindah

udara gerah

ruangan gelap

listrik tak nyala

mana anak kita?

hujan akan lebat lagi nampaknya

semoga tanpa angin keras

burung-burung parkit itu

masih berkicau juga dalam kandangnya

burung-burung parkit itu

apakah juga pingin punya rumah sendiri

seperti kami?

kalangan-solo, 25 november 91


Lingkungan Kita Si Mulut Besar

lingkungan kita si mulut besar

dihuni lintah-lintah

yang kenyang menghisap darah keringat tetangga

dan anjing-anjing yang taat beribadah

menyingkiri para panganggur

yang mabuk minuman murahan

lingkungan kita si mulut besar

raksasa yang membisu

yang anak-anaknya terus dirampok

dan dihibur film-film kartun amerika

perempuannya disetor

ke mesin-mesin industri

yang membayar murah

lingkungan kita si mulut besar

sakit perut dan terus berak

mencret oli dan logam

busa dan plastik

dan zat-zat pewarna yang merangsang

menggerogoti tenggorokan bocah-bocah

yang mengulum es

limapuluh perak

kampung kalangan-solo, desember 1991


Megatruh Solidaritas

akulah bocah cilik itu

kini aku datang kepada dirimu

akan kuceritakan masa kanak-kanakmu

akulah bocah cilik itu

yang tak berani pulang

karena mencuri uang simbok

untuk beli benang layang-layang

akulah bocah cilik itu

yang menjual gelang simbok

dan ludes dalam permainan dadu

akulah bocah cilik kurus itu

yang tak pernah menang bila berkelahi

yang selalu menangis bila bermain sepak-sepong

aku adalah salah seorang dari bocah-bocah kucel

yang mengoreki tumpukan sampah

mencari sisa kacang atom

dan sisa moto buangan pabrik

akulah bocah bengal itu

yang kelayapan di tengah arena sekaten

nyrobot brondong dan celengan

dan menangis di tengah jalan

karena tak bisa pulang

akulah bocah cilik itu

yang ramai-ramai rebutan kulit durian

dan digigit anjing ketika nonton telepisi

di rumah Bah Sabun

ya engkaulah bocah cilik itu

sekarang umurku dua puluh empat

ya akulah bocah cilik itu

sekarang aku datang kepada dirimu

karena kudengar kabar

seorang kawan kita mati terkapar

mati ditembak mayatnya dibuang

kepalanya koyak

darahnya mengental

dalam selokan

solo, 31 januari 1987


Catatan Suram

kucing hitam jalan pelan

meloncat turun dari atap

tiga orang muncul dalam gelap

sembunyi menggenggam besi

kucing hitam jalan pelan-pelan

diikuti bayang-bayang

ketika sampai di mulut gang

tiga orang menggeram

melepaskan pukulan

bulan disaput awan meremang

saksikan perayaan kemiskinan

daging kucing pindah

ke perut orang!

solo, 1987

Gumam Sehari-hari

di ujung sana ada pabrik roti

kami beli yang remah-remah

karena murah

di ujung sana ada tempat penyembelihan sapi

dan kami kebagian bau

kotoran air selokan dan tai

di ujung sana ada perusahaan daging abon

setiap pagi kami beli kuahnya

dimasak campur sayur

di pinggir jalan

berdiri toko-toko baru

dan macam-macam bangunan

kampung kami di belakangnya

riuh dan berjubel

seperti kutu kere kumal

terus berbiak!

membengkak tak tercegah!

jagalan, kalangan solo, 29 januari 1989


Catatan Hari Ini

aku nganggur lagi

semalam ibu tidur di kursi

jam dua lebih aku menulis puisi

aku duduk menghadap meja

ibu kelap-kelip matanya ngitung utang

jam enam sore:

bapak pulang kerja

setelah makan sepiring

lalu mandi tanpa sabun

tadi siang ibu tanya padaku:

kapan ada uang?

jam setengah tujuh malam

aku berangkat latihan teater

apakah seni bisa memperbaiki hidup?

solo, juni 86


Reportase dari Puskesmas

barangkali karena ikan laut yang kumakan ya

barangkali ikan laut. seminggu ini

tubuhku gatal-gatal ya.. gatal-gatal

karena itu dengan lima ratus rupiah aku daftarkan

diri ke loket, ternyata cuma seratus lima puluh

murah sekali oo.. murah sekali! lalu aku menunggu

berdiri. bukan aku saja. tapi berpuluh-puluh

bayi digendong. orang-orang batuk

kursi-kursi tak cukup maka berdirilah aku.

“sakit apa pak?”

aku bertanya kepada seorang bapak berkaos lorek

kurus. bersandal jepit dan yang kemudian mengaku

sebagai penjual kaos celana pakaian rombeng di pasar johar.

“batuk-pilek-pusing-sesek nafas

wah! campur jadi satu nak!”

bayangkan tiga hari menggigil panas tak tidur

ceritanya kepadaku. mendengar cerita lelaki itu

seorang ibu (40 th) menjerit gembira:

“ya ampun rupanya bukan aku saja!”

di ruang tunggu berjejal yang sakit pagi itu

sakit gigi mules mencret demam semua bersatu.

jadi satu. menunggu.

o ya pagi itu seorang tukang kayu sudah tiga hari

tak kerja. kakinya merah bengkak gemetar

“menginjak paku!” katanya, meringis.

puskesmas itu demokratis sekali, pikirku

sakit gigi, sakit mata, mencret, kurapan, demam

tak bisa tidur, semua disuntik dengan obat yang sama.

ini namanya sama rasa sama rasa.

ini namanya setiap warga negara mendapatkan haknya

semua yang sakit diberi obat yang sama!

semarang, 86


Sajak Kota

kota macam apa yang kita bangun

mimpi siapa yang ditanam

di benak rakyat

siapa yang merencanakan

lampu-lampu menyibak

jalan raya dilicinkan

di aspal oleh uang rakyat

motor-motor mulus meluncur

merek-merek iklan

di atap gedung

menyala

berjejer-jejer

toko roti

toko sepatu

berjejer-jejer

salon-salon kecantikan

siapa merencanakan nasib rakyat?

Pemandangan

aku pangling betul

pada ini jalan jendral Sudirman

balaikota makin berubah

sampai Slamet Riyadi-Gladag

reklame rokok berkibar-kibar

spanduk show band

pameran rumah murah

(tapi harganya jutaan!)

kehingaran jalan raya

menyolok mata

Jendral Sudirman

dihiasi slogan-slogan pembangunan

tapi kantor pos belum berubah

bank-bank dan gereja makin megah

di pojok Ronggowarsito

ada aturan baru

becak dilarang terus

(bis kota turah-turah penumpang!)

solo, desember 87


Aku Lebih Suka Dagelan

di radio aku mendengar berita

katanya partisipasi politik rakyat kita sangat menggembirakan

tapi kudengar dari mulut seorang kawanku

dia diinterogasi dipanggil gurunya

karena ikut kampanye PDI

dan di kampungku ibu RT

tak mau menegor sapa warganya

hanya karena ia Golkar

ada juga yang saling bertengkar

padahal rumah mereka bersebelahan

penyebabnya hanya karena mereka berbeda tanda gambar

ada juga kontestan yang nyogok

tukang-tukang becak

akibatnya dalam kampanye banyak

yang mencak-mencak

di radio aku mendengar berita-berita

tapi aku jadi muak karena isinya

kebohongan yang tak mengatakan kenyataan

untunglah warta berita segera bubar

acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!

solo, 87


Sajak Setumbu Nasi Sepanci Sayur

setumbu nasi

sepanci sayur kobis

renungan hari ini

berjongkok di dapur

angan terbuka seperti layar bioskop

bising mesin

bis kota merdeka berlaga di jalan raya

becak-becak berpeluh melawan jalan raya

siapa pengatur jalan kaki

siapa pemerintah kaki lima

begitu patuh mereka diusir pergi

begitu berani mereka datang kembali

gemuruh kota menggaru benakku

berjongkok di dapur

kompor kering

kayu tempat piring-piring

gedung-gedung beranak pinak

Nyanyian Abang Becak

jika harga minyak mundhak

simbok semakin ajeg berkelahi sama bapak

harga minyak mundhak lombok-lombok akan mundhak

sandang pangan akan mundhak

maka terpaksa tukang-tukang lebon

lintah darat bank plecit tukang kredit harus dilayani

siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin mendesak

seribu lima ratus uang belanja tertinggi dari bapak untuk simbok

siapa bisa mencukupi

sedangkan kebutuhan hidup semakin mendesak

maka simbok pun mencak-mencak:

“pak-pak anak kita kebacut metu papat lho!”

bayaran sekolahnya anak-anak nunggak lho!”

si Penceng muntah ngising, perutku malah sudah

isi lagi dan suk Selasa Pon ana sumbangan maneh

si Sebloh dadi manten!”

jika BBM kembali menginjak

namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan

maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan

nasib

kepadamu duh pangeran duh gusti

sebab nasib adalah permainan kekuasaan

lampu butuh menyala, menyala butuh minyak

perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi

namun bapak cuma abang becak!

maka apabila becak pusaka keluarga pulang tanpa membawa uang

simbok akan kembali mengajak berkelahi bapak.

solo, 1984


Jalan

aspal leleh tengah hari

silau aku oleh sinar matahari

gedung-gedung baru berdiri

arsitektur lama satu-satu hilang

dimakan pembangunan

jalan kiri kanan dilebarkan

becak-becak melompong di pinggiran

yang jalan kaki

yang digenjot

yang jalan bensin

semua ingin jalan

solo, 22 november 90


Pasar Malam Sriwedari

beli karcis di loket

pengemis tua muda anak-anak

mengulurkan tangan

masuk arena corong-corong berteriak

udara terang benderang tapi sesak

di stand perusahaan rokok besar

perempuan montok menawarkan dagangannya

di stand jamu tradisionil

kere-kere di depan video berjongkok

nonton silat mandarin

di dalam gedung wayang wong

penonton lima belas orang

ada pedagang kaki lima

yang liar tak berizin

setiap saat bisa diusir keamanan

solo, 28 mei 86


Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan

tikar plastik tikar pandan

kita duduk berhadapan

tikar plastik tikar pandan

lambang dua kekuatan

tikar plastik bikinan pabrik

tikar pandan dianyam tangan

tikar plastik makin mendesak

tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

solo, april 88


Lumut

dalam gang pikiranku menggumam

seperti kemarin saja

kini los rumah yang dulu kami tempati

jadi bangunan berpagar tembok tinggi

aku jalan lagi

melewati rumah yang pernah disewa

Riyanto buruh kawan sekerjaku

ke mana lagi dia sekeluarga

rumah itu kini gantian di sewa

keluarga mbak Nina

kampung ini tak memiliki tanah lapang lagi

tanah-tanah kosong sudah dibeli orang

dalam gang

setengah gelap setengah terang

aku menemukan perumpamaan:

kita ini lumut

menempel di tembok-tembok bangunan

berkembang di pingir-pinggir selokan

di musim kemarau kering

diterjang banjir

tetap hidup

kalau keadaan berubah

perumpamaan boleh berubah

menurutmu sendiri

kita ini siapa?

kalangan solo, 8 februari 91


Tanah

tanah mestinya di bagi-bagi

jika cuma segelintir orang

yang menguasai

bagaimana hari esok kamu tani

tanah mestinya ditanami

sebab hidup tidak hanya hari ini

jika sawah diratakan

rimbun semak pohon dirubuhkan

apa yang kita harap

dari cerobong asap besi

hari ini aku mimpi buruk lagi

seekor burung kecil menanti induknya

di dalam sarangnya yang gemeretak

dimakan sapi

1989-solo


Sajak Tapi Sayang

kembang dari pinggir jalan

kembang yang tumbuh di tembok

tembok selokan

kupindah kutanam di halaman depan

anakku senang bojoku senang

tapi sayang

bojoku ingin nanam lombok

anakku ingin kolam ikan

tapi sayang

setelah sewa rumah habis

kami harus pergi

terus cari sewa lagi

terus cari sewa lagi

alamat rumah kami punya

tapi sayang

kamu butuh tanah

25 januari 91 – solo


Gunungbatu

gunungbatu

desa yang melahirkan laki-laki

kuli-kuli perkebunan

seharian memikul kerja

setiap pagi makin bungkuk

dijaga mandor dan traktor

delapan ratus gaji sehari

di rumah ditunggu

mulut perut anak istri

gunungbatu

desa yang melahirkan laki-laki

pencuri-pencuri

menembak binatang di hutan lindung

mengambil telur penyu

di pantai terlarang

demi piring nasi

kehidupan sehari-hari

gunungbatu

desa terpencil jawa barat

dipagari hutan

dibatasi pantai-pantai cantik

ujung genteng, cibuaya, pangumbahan

sulit transportasi

-jakarta dekat-

sulit komunikasi

sejarah gunungbatu

sejarah kuli-kuli

sejak kolonial

sampai republik merdeka

sejarah gunungbatu

sejarah kuli-kuli

gunungbatu

masih di tanah air ini

november 87

Suti

Suti tidak kerja lagi

pucat ia duduk dekat amben-nya

Suti di rumah saja

tidak ke pabrik tidak ke mana-mana

Suti tidak ke rumah sakit

batuknya memburu

dahaknya berdarah

tak ada biaya

Suti kusut-masai

di benaknya menggelegar suara mesin

kuyu matanya membayangkan

buruh-buruh yang berangkat pagi

pulang petang

hidup pas-pasan

gaji kurang

dicekik kebutuhan

Suti meraba wajahnya sendiri

tubuhnya makin susut saja

makin kurus menonjol tulang pipinya

loyo tenaganya

bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi

ia ingat kawannya

Sri yang mati

karena rusak paru-parunya

Suti meludah

dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata

suara mesin kembali menggemuruh

bayangan kawannya bermunculan

Suti menggelengkan kepala

tahu mereka dibayar murah

Suti meludah

dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter

tak ada uang

tak ada obat

solo, 27 februari 88

Apa Yang Berharga Dari Puisiku

apa yang berharga dari puisiku

kalau adikku tak berangkat sekolah

karena belum membayar SPP

apa yang berharga dari puisiku

kalau becak bapakku tiba-tiba rusak

jika nasi harus dibeli dengan uang

jika kami harus makan

dan jika yang dimakan tidak ada?

apa yang berharga dari puisiku

kalau bapak bertengkar dengan ibu

ibu menyalahkan bapak

padahal becak-becak terdesak oleh bis kota

kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?

apa yang berharga dari puisiku

kalau ibu dijiret utang

kalau tetangga dijiret utang?

apa yang berharga dari puisiku

kalau kami terdesak mendirikan rumah

di tanah-tanah pinggir selokan

sementara harga tanah semakin mahal

kami tak mampu membeli

salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah?

apa yang berharga dari puisiku

kalau orang sakit mati di rumah

karena rumah sakit yang mahal

apa yang berharga dari puisiku

kalau yang kutulis makan waktu berbulan-bulan

apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan yang menjiret kami?

apa yang telah kuberikan

kalau penonton baca puisi memberi keplokan

apa yang telah kuberikan

apa yang telah kuberikan?

semarang, 6 maret 86

Mendongkel Orang-Orang Pintar

kudongkel keluar

orang-orang pintar

dari dalam kepalaku

aku tak tergetar lagi

oleh mulut-mulut orang pintar

yang bersemangat ketika berbicara

dunia bergerak bukan karena omongan

para pembicara dalam ruang seminar

yang ucapannya dimuat

di halaman surat kabar

mungkin pembaca terkagum-kagum

tapi dunia tak bergerak

setelah surat kabar itu dilipat

Kampung halaman solo, 8 september 1993


Kota ini Milik Kalian

di belakang gedung-gedung tinggi

kalian boleh tinggal

kalian bebas tidur di mana-mana kapan saja

kalian bebas bangun sewaktu kalian mau

jika kedinginan karena gerimis atau hujan

kalian bisa mencari hangat

di sana ada restoran

kalian bisa tidur dekat kompor penggorengan

bakmi ayam dan babi

denting garpu dan sepatu mengkilap

di samping sedan-sedan dan mobil-mobil bikinan jepang

kalian bisa mandi kapan saja

sungai itu milik kalian

kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri

apa belum cukup terang benderang itu

lampu merkuri taman

apa belum cukup nyaman tidur di bawah langit kawan

kota ini milik kalian

kecuali gedung-gedung tembok pagar besi itu; jangan!


Gentong Kosong

parit susut

tanah kerontang

langit mengkilau perak

matahari menggosongkan pipi

gentong kosong

beras segelas cuma

masak apa kita hari ini?

pakis-pakis hijau

bawang putih dan garam

kepadamu kami berterimakasih

atas jawabanmu

pada sang lapar hari ini

gentong kosong

airmu kering

ciduk jatuh bergelontang

minum apa hari ini?

sungai-sungai pinggir hutan

yang menolong di panas terik

dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet

yang mendidih bersama ikan teri di panci

jadilah tenaga hidup kami hari ini

dengan iris-irisan ubi keladi

yang digoreng dengan minyak

persediaan terakhir kami

gentong kosong

botol kosong

marilah bernyanyi

merayakan hidup ini

6 januari 97


Kucing, Ikan Asin dan Aku

seekor kucing kurus

menggondol ikan asin

laukku untuk siang ini

aku meloncat

kuraih pisau

biar kubacok dia

biar mampus!

ia tak lari

tapi mendongak

menatapku

tajam

mendadak

lunglai tanganku

-aku melihat diriku sendiri

lalu kami berbagi

kuberi ia kepalanya

(batal nyawa melayang)

aku hidup

ia hidup

kami sama-sama makan

14 oktober 1996

Nonton Harga

ayo keluar keliling kota

tak perlu ongkos tak perlu biaya

masuk toko perbelanjaan tingkat lima

tak beli tak apa

lihat-lihat saja

kalau pingin durian

apel-pisang-rambutan-anggur

ayo..

kita bisa mencium baunya

mengumbar hidung cuma-cuma

tak perlu ongkos tak perlu biaya

di kota kita

buah macam apa

asal mana saja

ada

kalau pingin lihat orang cantik

di kota kita banyak gedung bioskop

kita bisa nonton posternya

atau ke diskotik

di depan pintu

kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma

mendengarkan detak musik

denting botol

lengking dan tawa

bisa juga kau nikmati

aroma minyak wangi luar negeri

cuma-cuma

aromanya saja

ayo..

kita keliling kota

hari ini ada peresmian hotel baru

berbintang lima

dibuka pejabat tinggi

dihadiri artis-artis ternama ibukota

lihat

mobil para tamu berderet-deret

satu kilometer panjangnya

kota kita memang makin megah dan kaya

tapi hari sudah malam

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

sebelum kehabisan kendaraan

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

tidur berderet-deret

seperti ikan tangkapan

siap dijual di pelelangan

besok pagi

kita ke pabrik

kembali bekerja

sarapan nasi bungkus

ngutang

seperti biasa

18 november 96


Derita Sudah Naik Seleher

kaulempar aku dalam gelap

hingga hidupku menjadi gelap

kausiksa aku sangat keras

hingga aku makin mengeras

kau paksa aku terus menunduk

tapi keputusan tambah tegak

darah sudah kau teteskan

dari bibirku

luka sudah kau bilurkan

ke sekujur tubuhku

cahaya sudah kau rampas

dari biji mataku

derita sudah naik seleher

kau

menindas

sampai

di luar batas

17 november 96


Puisi Sikap

maunya mulutmu bicara terus

tapi telingamu tak mau mendengar

maumu aku ini jadi pendengar terus

bisu

kamu memang punya tank

tapi salah besar kamu

kalau karena itu

aku lantas manut

andai benar

ada kehidupan lagi nanti

setelah kehidupan ini

maka akan kuceritakan kepada semua mahkluk

bahwa sepanjang umurku dulu

telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku

dan kuhabiskan hidupku

untuk menentangmu

hei penguasa zalim

24 januari 97


Hari Ini Aku Akan Bersiul-siul

pada hari coblosan nanti

aku akan masuk ke dapur

akan kujumlah gelas dan sendokku

apakah jumlahnya bertambah

setelah pemilu bubar?

pemilu oo.. pilu pilu

bila hari coblosan tiba nanti

aku tak akan pergi kemana-mana

aku ingin di rumah saja

mengisi jambangan

atau mananak nasi

pemilu oo.. pilu pilu

nanti akan kuceritakan kepadamu

apakah jadi penuh karung beras

minyak tanah

gula

atau bumbu masak

setelah suaramu dihitung

dan pesta demokrasi dinyatakan selesai

nanti akan kuceritakan kepadamu

pemilu oo.. pilu pilu

bila tiba harinya

hari coblosan

aku tak akan ikut berbondong-bondong

ke tempat pemungutan suara

aku tidak akan datang

aku tidak akan menyerahkan suaraku

aku tidak akan ikutan masuk

ke dalam kotak suara itu

pemilu oo.. pilu pilu

aku akan bersiul-siul

memproklamasikan kemerdekaanku

aku akan mandi

dan bernyanyi sekeras-kerasnya

pemilu oo.. pilu pilu

hari itu aku akan mengibarkan hakku

tinggi tinggi

akan kurayakan dengan nasi hangat

sambel bawang dan ikan asin

pemilu oo.. pilu pilu

sambel bawang dan ikan asin

10 november 96


Merontokkan Pidato

bermingu-minggu ratusan jam

aku dipaksa

akrab dengan sudut-sudut kamar

lobang-lobang udara

lalat semut dan kecoa

tapi catatlah

mereka gagal memaksaku

aku tak akan mengakui kesalahanku

karena berpikir merdeka bukanlah kesalahan

bukan dosa bukan aib bukan cacat

yang harus disembunyikan

kubaca koran

kucari apa yang tidak tertulis

kutonton televisi

kulihat apa yang tidak diperlihatkan

kukibas-kibaskan pidatomu itu

dalam kepalaku hingga rontok

maka terang benderanglah

:ucapan penguasa selalu dibenarkan

laras senapan!

tapi dengarlah

aku tak akan minta ampun

pada kemerdekaan ini

11 september 96


Puisi Menolak Patuh

walau penguasa menyatakan keadaan darurat

dan memberlakukan jam malam

kegembiraanku tak akan berubah

seperti kupu-kupu

sayapnya tetap indah

meski air kali keruh

pertarungan para jendral

tak ada sangkut pautnya

dengan kebahagiaanku

seperti cuaca yang kacau

hujan angin kencang serta terik panas

tidak akan mempersempit atau memperluas langit

lapar tetap lapar

tentara di jalan-jalan raya

pidato kenegaraan atau siaran pemerintah

tentang kenaikkan pendapatan rakyat

tidak akan mengubah lapar

dan terbitnya kata-kata dalam diriku

tak bisa dicegah

bagaimana kau akan membungkamku?

penjara sekalipun

tak bakal mampu

mendidikku jadi patuh

17 januari 97

—————- TAMBAHAN —————

PENYAIR

jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!

sarang jagat teater 19 januari 1988

Pesan sang Ibu

Tatkala aku menyarungkan pedang

Dan bersimpuh di atas pangkuanmu,

Tertumpah rasa kerinduanku pada sang Ibu

Tangannya yang halus mulus membelai kepalaku, bergetarlah seluruh jiwa ragaku

Musnahlah seluruh api semangat juangku

Namun sang Ibu berkata” Anakku sayang, apabila kakimu sudah melangkah di tengah  padang, tancapkanlah kakimu dalam2 dan tetaplah terus bergumam sebab gumam adalah mantra dari dewa-dewa, gumam mengandung ribuan makna.”

“Apabila gumam sudah menyatu dengan jiwa raga, maka gumam akan berubah menjadi teriakan-teriakan. Yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar yang nantinya akan mampu merobohkan isrtana yang penuh kepalsuan gedung-gedung yang dihuni kaum munafik”

“Tatanan negeri ini sudah hancur Anakku”

“Dihancurkan oleh sang penguasa negeri ini

Mereja hanya bisa bersolek di depan kaca tapi membiarkannya punggungnya penuh noda dan penuh lendir hitan yang baunya kemana mana

Mereka selalu menyemprot kemaluannya denang parfum luar negeri

Di luar berbau wangi di dalam penuh dengan bakteri

Dan hebatnya sang penguasa negeri ini pandai bermaniin akrobat

Tubuhnya mampu dilipat-lipat yang akhirnya. pantat dan kemaluannya sendiri mampu dijilat-jilat

Anakku apabila pedang sudah dicabut janganlah surut janganlah bicara soal menang dan kalah, sebab menang dan kalah hanyalah mimpi-mimpi, mimpi-mimpi muncul dari sebuah keinginan,

Keinginan hanyalah sebuah khayalan , yang akan melahirkan harta dan kekuasaan.

Harta dan kekuasaan hanyalah balon-balon sabun yang terbang di udara

Anakku asahlah pedangmu, ajaklah mereka bertarung di tengah padang, lalu tusukkan pedangmu di tengah-tengah selangkangan mereka. Biarkan darah tertumpah di negeri ini”

Satukan gumammu menjadi revolusi!!!

BUKAN KATA BARU

ada kata baru kapitalis, baru? Ah tidak, tidak

sudah lama kita dihisap

bukan kata baru, bukan

kita dibayar murah

sudah lama, sudah lama

sudah lama kita saksikan

buruh mogok dia telpon kodim, pangdam

datang senjata sebataliyon

kita dibungkam

tapi tidak, tidak

dia belum hilang kapitalis

dia terus makan

tetes ya tetes tetes keringat kita

dia terus makan
sekarang rasakan kembali jantung
yang gelisah memukul-mukul marah
karena darah dan otak jalan
kapitalis
dia hidup
bahkan berhadap-hadapan
kau aku buruh mereka kapitalis
sama-sama hidup
bertarung
ya, bertarung
sama-sama?
tidak, tidak bisa
kita tidak bisa bersama-sama
sudah lama ya sejak mula
kau aku tahu
berapa harga lengan dan otot kau aku
kau tahu berapa upahmu
kau tahu
jika mesin-mesin berhenti
kau tahu berapa harga tenagamu
mogoklah
maka kau akan melihat
dunia mereka
jembatan ke dunia baru
dunia baru ya dunia baru.
-tebet 9/5/1992-

Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

aku bukan artis pembuat berita

tapi aku memang selalu kabar buruk buat

penguasa

puisiku bukan puisi

tapi kata-kata gelap

yang berkeringat dan berdesakan

mencari jalan

ia tak mati-mati

meski bola mataku diganti

ia tak mati-mati

meski bercerai dengan rumah

ditusuk-tusuk sepi

ia tak mati-mati

telah kubayar yang dia minta

umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih

padaku ia selalu berkata

kau masih hidup

aku memang masih utuh

dan kata-kata belum binasa

(Wiji Thukul.18 juni 1997)

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: